Pasar tradisional itu hidup. Bukan cuma soal bau anyir ikan atau teriakan “ibu-ibu mampir!”, tapi juga tentang transaksi cash yang udah jadi darah daging. Tapi gimana kalau fintech masuk ke dunia ini? Beneran bisa bantu atau malah bikin ribet?
QR Code di Tengah Bau Tempe Busuk
Pernah liat pedagang sayur keliling yang terima bayaran pakai QRIS? Aku sih belum. Padahal menurut data Bank Indonesia, transaksi QRIS di UMKM naik 300% tahun lalu. Tapi realitanya di lapangan? Masih jarang banget.
Masalah utama: literasi digital. Banyak pedagang pasar yang umurnya udah 40+, smartphone aja cuma buat WhatsApp sama Facebook. “Mending terima cash, nggak pake ribet scan-scan gitu,” kata Bu Siti yang jualan bumbu di Pasar Kramat Jati.
Tapi ada juga yang berhasil. Pak Joko di Pasar Minggu cerita kalau sejak pakai dompet digital, pembeli anak muda jadi lebih sering beli. “Mereka kan jarang bawa cash sekarang,” katanya sambil tunjukkan QR code yang ditempel di gerobaknya pakai selotip.
Yang bikin pusing? Biaya transaksi. Meski cuma 0,7%, buat pedagang yang marginnya tipis, ini tetep aja kerasa. Belum lagi kalau ada masalah teknis, internet lemot pas ramai, salah input nominal, atau saldo nggak masuk. Ribet kan?
Fintech sebenarnya bisa jadi solusi buat catat keuangan. Aplikasi seperti BukuKas atau Moka udah banyak dipake toko kecil. Tapi lagi-lagi, tantangannya adalah kebiasaan. “Udah 30 tahun catat di buku tulis, ngapain pindah ke hp?” protes seorang pedagang buah.
Lalu gimana caranya bikin fintech benar-benar berguna untuk pasar tradisional? Pertama, edukasi yang nggak muluk-muluk. Jangan ajarin mereka tentang blockchain kalau cara scan QR code aja masih gagap. Kedua, desain aplikasi yang super sederhana, icon gede, tulisan jelas, warna kontras.
Yang paling penting: fintech harus adaptif sama kondisi lapangan. Bayangin aja, gimana caranya transaksi tetap lancar di pasar yang atapnya bocor, listrik suka mati, dan sinyal internet kadang hilang timbul?
Jadi, fintech untuk pedagang pasar tradisional itu seperti pisau bermata dua. Bisa bantu berkembang, tapi juga bisa bikin stress kalau dipaksakan tanpa persiapan. Mungkin solusinya bukan digitalisasi total, tapi hybrid, cash tetap jalan, fintech sebagai opsi tambahan.
Kamu sendiri pernah belanja di pasar tradisional pakai e-wallet? Atau jangan-jangan sampai sekarang masih setia sama uang kertas?
Leave a Reply